Rokok Keempat



            Aku menghisap dalam-dalam lagi puntungan rokokku yang ketiga. Lalu melirik gadis yang tiga tahun lalu pernah menjadi kekasihku. Bahkan hingga beberapa menit yang lalu, ia masih kekasihku. Satu jam yang lalu, ia memintaku bertemu di cafĂ© ini. Lalu kami pun mengobrol dan saling membelai seperti biasa. Tak ada yang berbeda.

Kemudian tanpa disangka-sangka ia mengeluarkan sebuah undangan. Ia mengundangku ke datang pernikahannya. Sangat kejam. Sambil menangis pilu, ia berkata bahwa dirinya telah dijodohkan dengan pemuda pilihan orang tuanya. Dan secepat mungkin mereka akan melangsungkan pernikahan. Aku bisa apa?

Langit yang kelabu seolah semakin mendramatisi adegan ini. Kania, nama gadis itu beranjak bangkit dari kursi.

“Sudah saatnya aku pergi. Semoga kamu cepat menemukan penggantiku.”

Lalu ia pun berlalu, saat aku mulai menyalakan batang rokokku yang ke-empat.


          **) dibuat untuk mengikuti permainan #FF2in1 

Tidak ada komentar